bangkrut

perusahaan yang bangkrut

Home » Tips Wirausaha » bangkrut

bangkrut

Thursday, December 20th 2012. | Tips Wirausaha

Bangkrut ; Ketika Harus Menutup Usaha, Bagaimana Menyikapinya ?

Oleh Alamsyah

bisnis bangkrut

rugi

Ketika hendak menulis artikel tentang bangkrut ini saya berharap tidak seorangpun dari rekan-rekan pewirausaha yang mendapatkan manfaat dari tulisan saya ini. Artinya saya benar-benar tidak berharap ada rekan-rekan yang mengalami “bangkrut” dalam usahanya dan harus menutup usaha yang telah dimulainya. Tetapi terkadang sesuatu berjalan dan terjadi tidak seperti yang kita harapkan. Adakalanya, setelah segala sesuatu kita perhitungkan dengan sematang dan secermat-cermatnya muncul faktor lain dan baru yang mengubah segala sesuatunya, tentu saja demikian pula hal-nya dalam dunia usaha. Bahkan satu hal yang harus benar-benar kita pahami sebelum menerjunkan diri dalam dunia wirausaha adalah kesadaran penuh bahwa dunia wirausaha adalah dunia yang berisi ketidakpastian dan segudang kemungkinan. Maka mempersiapkan diri menghadapi situasi terburuk adalah jauh lebih baik ketimbang tidak sama sekali. Dalam dunia usaha, situasi terburuk itu bisa berupa ke-bangkrut-an. Pasti tidak seorangpun diantara kita yang menginginkan mengalami ke-bangkrut-an dalam usahanya. Namun jika hal tersebut terjadi dan menimpa kita ada beberapa hal yang sebaiknya segera kita lakukan, diantaranya :

Cepat mengambil keputusan saat ada tanda-tanda bangkrut

Tahun 2007, ketika usaha toko komputer yang saya jalankan (sebenarnya) tidak mampu lagi untuk dipertahankan karena keuntungan yang dihasilkannya bahkan lebih kecil jika dibanding dengan biaya yang harus dikeluarkan, saya berusaha “membohongi” diri sendiri dengan harapan-harapan palsu bahwa nanti “suatu saat” toko komputer saya tersebut akan mendapatkan order besar yang mampu menutupi seluruh biaya pengeluaran dan bahkan memberikan keuntungan yang besar. Sebenarnya dalam hati saya tahu betul bahwa hal tersebut tidaklah mungkin terjadi (ada perbedaan jelas antara “harapan palsu” dan “impian besar”). Saat itu saya malu untuk mengakui bahwa perencanaan, strategi dan langkah yang saya ambil keliru. Saya malu mengakui bahwa saya telah bangkrut. Hingga akhirnya pada penghujung 2008 saya benar-benar harus menutup usaha tersebut. Dan dalam masa “pembohongan diri sendiri” itu kerugian yang saya derita justru semakin besar dan membengkak.

Baru sekarang saya menyadari bahwa memahami situasi pasar dan prospek dari usaha yang kita bangun lalu menerima hasilnya adalah hal penting dalam ber wirausaha. Membohongi diri sendiri dengan impian-impian palsu justru akan membenamkan kita kedalam masalah yang tidak kecil dan sedikit. Dan yang lebih penting dari itu adalah mengambil keputusan dengan cepat. Tidak perlu merasa malu untuk menutup usaha dan mengakui bahwa kita memang bangkrut jika demikian halnya yang terjadi. Semakin cepat kita mengambil keputusan akan semakin baik bagi kita. Semakin cepat kita menerima bahwa diri kita memang salah dan keliru maka semakin banyak pula waktu yang kita miliki untuk melakukan perbaikan.

Lakukan evaluasi penyebab bangkrut secara mendalam

Membuka usaha itu bukan suatu hal yang mudah. Tidak semua orang bisa dan berani untuk memulai membuka usaha. Namun, menutup suatu usaha itu “ternyata” jauh lebih sulit dan berat daripada membuka usaha. Dibutuhkan mental dan nyali besar untuk menutup suatu usaha. Seperti yang saya rasakan, rasa malu yang demikian besar menghalangi saya untuk dapat mengambil keputusan dengan cepat. Maka jika kita terpaksa harus menutup usaha yang telah kita mulai karena bangkrut, jangan jadikan hal tersebut berlalu sia-sia begitu saja. Harus kita sadari bahwa tidak semua orang memiliki pengalaman “menutup usaha” dan “bangkrut” seperti hal-nya kita. Percayalah bahwa dengan memberanikan diri menutup usaha yang memang bangkrut dan tidak memiliki prospek dimasa mendatang akan menjadikan kita pribadi yang semakin matang dan tangguh. Dan yang juga penting adalah kita melakukan evaluasi mendalam atas kegagalan dan ke-bangkrut-an usaha yang kita jalankan. Gali secara mendalam faktor apa saja yang menyebabkan kegagalan usaha kita, lalu jadikan hasil evaluasi tersebut sebagai pijakan bagi langkah kita selanjutnya.

Segera “action” memulai usaha baru

Ini adalah momentum besar yang saya lewatkan. Setelah bangkrut dan menutup toko komputer pada penghujung 2008 saya lebih banyak merenung dan berdiam diri. Dan pada awal tahun 2011 lah saya baru mulai merintis usaha kembali. Apa yang saya rasakan ? Rasa gamang, takut, dan kebingungan luar biasa harus saya taklukkan. Saya kehilangan semangat dan optimisme. Dan yang lebih mengerikan, saya seperti kehilangan keberanian.  Dengan sangat berat saya “memaksa” diri saya untuk kembali melangkah dalam dunia wirausaha. Meski akhirnya saya berhasil membuka kembali sebuah usaha, sampai hari ini saya tetap merasa tidak “seoptimis” dan “seberani” dahulu.

Ternyata, saya telah melewatkan sebuah momentum besar dan berharga. Seperti seorang petinju yang terkena sebuah pukulan di mukanya, maka ia akan semakin berani menghadapi lawannya sebab telah mengetahui seberapa sakitnya terkena pukulan. Seperti itulah sebenarnya keadaan kita setelah melewati masa gagal dan bangkrut. Kita menjadi lebih berani dalam melangkah. Dan seringkali tanpa kita sadari, insting kita menjadi semakin tajam. Itulah sebabnya semua orang yang kini mencapai kesuksesan adalah orang-orang yang pernah gagal dan bangkrut yang cepat didalam mengambil keputusan, yang mau melakukan introspeksi dan yang tetap berani mengambil langkah dan tindakan segera setelah ia bangkrut.

Jadi jika memang usaha yang kita rintis bangkrut dan gagal, tidak perlu merasa malu lalu cepat ambil keputusan untuk menutupnya dengan evaluasi secara mendalam. Dan tentu saja segera di follow up dengan usaha berikutnya.

Salam wirausaha, salam sukses selalu.

Baca juga :

Kertas Daur Ulang, Dari Sampah Menjadi Rupiah

Google Adsense Sebagai Sumber Pendapatan Sampingan

Wirausaha : It’s All About Action

tags: , , ,

Related For bangkrut

Comment For bangkrut